Jan 8, 2011

Home » » Saat merasa hidup tidak lagi berarti

Saat merasa hidup tidak lagi berarti

Saat merasa hidup tidak lagi berarti segera asah kecerdasan sosial diri. Masalah ekonomi, konflik rumah tangga, asmara, kekerasan dan lain sebagainya memicu seseorang untuk melakukan “Bunuh Diri” seperti banyak diberitakan di media massa akhir-akhir ini.

Gejala ini sulit sekali di kenali. Dan parahnya virus bunuh diri dapat menghinggapi diri kita sendiri atau orang yang kita cintai.
Seorang sastrawan, Charles Bukowski mengatakan”Yang mengirim seseorang ke rumah sakit jiwa bukan karena masalah besar atau kematian orang yang disayangi, melainkan seutas tali sepatu yang selalu lepas tidak dapat diikat”

Pengalaman bunuh diri karena asmara pernah dialami Ryan(34 tahun) yang sekarang menjadi fisioteraphis. Ryan pernah minum racun serangga karena masalah cewe (percintaan). Namun Ryan berhasil di selamatkan oleh keluarganya. Setelah kejadian itu, Ryan sangat malu karena sebagai anak yang dibanggakan keluarganya, mau bunuh diri hanya karena perempuan. Ryan yang selalu berprestasi di sekolah, harus menghadapi beban mental karena malu pada keluarga besar dan teman-temannya. Ryan pun malu harus bekerha di bagian administrasi kantor yang lama, dan selalu menghindar bila ada teman yang menelponnya.

Untungnya Ryan berhasil memulihkan kondisi mentalnya setelah meningkatkan kecerdasan sosialnya. Karena menganggur, Ryan lebih banyak meluangkan waktunya di rumah. Tak disangka salah seorang paman Ryan yang tinggal tidak jauh dari rumahnya terkena Stroke. Ryan pun sukarela mengantar pamannya bolak-balik ke rumah sakit. Di rumah sakit, Ryan tertarik dengan profesi fisioterapis yang sabar membantu para pasien. Ryan menjadi sadar kalau selama ini dirinya egois dan kurang peka terhadap penderitaan orang lain. Ia pun jadi sering ngobrol serta bercanda dengan para pasien dan fisioterapis di rumah sakit. Tanpa disadari, temannya di rumah sakit makin banyak, dan Ryan selalu merasa mendapat suntikan semangat dari orang-orang tersebut. Rasa malu yang dulu menderanya pun menghilang. Akhirnya Ryan memutuskan untuk bersekolah lagi di bidang fisioterapi. Setelah beberapa tahun, Ryan menjadi seorang fisioterapis yang sangat ramah dan suka menolong...

sumber: whole Brain Training for Social Intelligent

Artikel yang Berkaitan :

4 comments:

Rezdown7 said...

Bunuh diri??
waduh gk banget deh...
itu untuk org yan aklx pendek aja :p
--------------
nice info sobat
sukss sll
^_^

Adi Waskita Dharma said...

@rezdown7
betul sekali... hanya orang yang kurang mengerti akan hidup yang melakukan bunuh diri..

Tips Keluarga Harmonis said...

KIta banyak belajar dari apa yang dialami Riyan, patut kiranya di jadikan contoh.

green pakcoy said...

Bagi karakter karakter pendiam, Bunuh diri lebih mudah di lakukan....karena kaeadaan jiwanya labil. Orang normal gk mampu merasakan perasaanya, karena memang beda jiwa.

Post a Comment

Para pengunjung yang terhormat, berhubung saya baru belajar, mohon kritik dan saran yang membantu..

silakan tinggalkan komentar...